Coworking Space atau ruang kerja bersama EV Hive kini resmi rebranding dan mengubah namanya menjadi COCOWORK. Nama ini berasal dari gabungan community, collaboration, dan workspace.

Penggantian nama dan rebranding ini adalah langkah awal dan ekspansinya sebagai jaringan coworking space terbesar di Indonesia. Cocowork terdapat di berbagai kota-kota besar di Indonesia dan juga di Asia Tenggara.

“Kami percaya dengan wajah dan identitas baru ini akan lebih merepresentasikan kami dengan jelas dan lebih inklusif sehingga dapat menjangkau berbagai kalangan. Perusahaan kami berakar di dunia startup, tapi kami percaya bahwa konsep coworking bisa berguna dan relevan untuk bisnis-bisnis lain di Indonesia. Terlepas dari identitas baru, hal ini juga akan memperbarui komitmen kami untuk menyediakan pelayanan terbaik dan menjangkau pasar yang lebih luas di berbagai daerah di Indonesia dan Asia Tenggara.” ungkap CEO dan Co-Founder COCOWORK, Carlson Lau, seperti dikutip dari blog EV Hive.

Konsep dari COCOWORK juga menawarkan berbagai cara untuk meningkatkan produktivitas dalam bekerja.

“Kami percaya bahwa kerja adalah bagian yang tidak dapat terlepas dari diri setiap pribadi untuk mencapai kesuksesan dan mewujudkan passion kita menjadi hal-hal yang berguna. Oleh karena itu, kami menyadari pentingnya untuk membuat lingkungan kerja kita lebih seru dan energizing.” lanjut Carlson

Hingga saat ini Cocowork mengelola sebanyak 21 unit coworking space yang terdapat di Jakarta dan Medan. Bahkan dalam jangka panjang Cocowork menargetkan untuk membangun di 100 lokasi tambahan yang tersebar di Asia Tenggara.

Cocowork didirikan pada tahun 2015, dan saat ini berjumlah 3 ribu orang anggota dari 260 perusahaan. Sebagian besar adalah perusahaan startup (rintisan) dan 30 persen sisanya adalah industri tradisional seperti restoran dan manufaktur. Target ke depan menurut Carlson juga akan menyasar pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Carlson juga sangat optimis bahwa bisnis coworking di Indonesia akan terus berkembang.

“Sekarang (pasar) di Indonesia baru 10%. Saya kira 5-10 tahun, bisa jadi 20%. Karena banyak yang sudah sadar akan benefit coworking space, termasuk industri tradisional masuk,”  terangnya.